Popular Post

Archive for Mei 2013

Chairil anwar

By : Unknown
                                                                   

Tak Sepadan

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Maret 1943

Rumahku

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

27 april 1943

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

1944

Lagu Siul

Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
‘Ku kayak tidak tahu saja

25 November 1945

Catetan Th. 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut

Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!

1946

Malam di Pegunungan

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

Tuti Artic

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.

Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
– ketika kita bersepeda kuantar kau pulang –
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

1947

Derai-derai Cemara

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Raket Yang Tergantung

By : Unknown
                                                                 

Puisi 003



Raket Yang Tergantung  

Harapanku bergantung.........                    
Pada sang pemberi ilmu                                       
Bak raket yang digantung diatas tembok
Yang hanya bisa berharap pada paku
Yang menyanggahnya                                        
Mereka meremehkanku                                              
Selalu berkata..........
”kau bukan nomor 1 atau 2”
Tapi kau nomor tiga
 Akan kubuktikan......

 Aku sinomor 2
Tag : , ,

Karang-karang setan

By : Unknown


                                                        

Puisi 002
Karang-karang Setan                   by firman setiawan
                                                       ( Senin, 22 april 2013, 11:50 am)
Jalannya tak semulus bulan
Banyak batu bujukan dan paku rayuan
Kadang kala ada setan yang menjebak
Kuingin terus berlari menuju finish

Keberhasilan akan peraihan cita-cita
Itulah finishku.........
Finish yang masih kukejar
Disana ada seorang yang menungguku
Ibu yang gembira melihat keberhasilan anaknya

Tak akan kubiarkan karang-karang setan menghadang
Ku akan terus berlari hingga finish nanti

Tag : , ,

DENTINGAN YANG TERTUJU

By : Unknown

                                                      

Puisi 001

DENTINGAN YANG TERTUJU    by firman setiawan
                                                                               (17 April 2013)
Jalannya berbunyi
Tik…tik…tik
Langkahnya menunjukan ketegasan
Suaranya mengglegar
Tertuju pada kegelapan
Dan berakhir pada kematian

Sampai saat ini aku masih berjalan
Tak tahu akan melihat kegelapan
1 menit, 1jam¸ atau besok

Seijin tuhan ku ingin melihat cahaya
5-10 tahun yang akan datang
Hanya untuk melihat senyuman ibu
Yang jernih..... tak tertutup akan rasa pahit 
Tag : , ,

- Copyright © sasindoQ sastra indonesia Q - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -